Oct 13, 2016

Selamat malam! Wah, udah lama banget nggak cerita-cerita di sini lagi. Sekarang aku udah semester 5 nih, tentu aja banyak banget kegiatan dan tugas-tugas negara yang harus aku emban #apaanseh. Sebenarnya, sih, kuliahnya lumayan lebih selo daripada kuliah semester 4 lalu. Tapi tugasnya itu lho, bikin nyaris gila. Naudzubillah. Ya sebenarnya kalau dilihat-lihat juga nggak se-lebay itu, sih, tugasnya. Mungkin akunya aja yang kurang bisa membagi waktu, antara kuliah sama kegiatan di luar itu. Dan saat ini aku masih dalam masa ujian tengah semester alias UTS. Tinggal besok, sih. Tapi masih ada satu tugas take home yang belum aku sentuh sama sekali. Males banget. :’)
Anyway, sekarang aku lagi disibukkan dengan kegiatan ‘tarik suara’. Hahahaha. Maksudku, aku lagi sibuk di UKM PSM UGM.
“Persatuan Sepak bola Makassar, kak?”
NGARANG! PSM itu singkatan dari Paduan Suara Mahasiswa. Alias choir. Alias ‘koor’, eh apa sih, nggak tahu tulisannya. Naaah, di sini aku mau cerita tentang keseruan dan suka duka menjadi bagian dari keluarga PSM UGM.
Awalnya, aku nggak ada niatan buat daftar PSM. Tapi, waktu ada acara Gelex 2015 di Gelanggang Mahasiswa UGM, aku iseng mampir stand PSM. Terus, nggak tahu kenapa rasanya pengen daftar. Oh, ya, sebetulnya di tahun sebelumnya, aku juga pengen daftar gara-gara diajakin temenku, Dila, tapi aku masih ragu, lalu nggak jadi daftar. Waktu itu aku masih semester 1. Waktu itu bener-bener masih selooooooooooo banget, literally nggak ada kegiatan sama sekali. Eh, pernah juga, sih, iseng daftar Perisai Diri (silakan ketawa dulu). Cuma ikut dua kali pertemuan, terus berhenti. Nggak kuat. Capek. Emang lemah, dasar. Akhirnya aku jadi nggak ada kegiatan sama sekali selain kuliah. Ya, sesekali diajakin manggung (yaelah, manggung) ngisi acara jurusan atau kampus. Biasa, lah, masih maba dijadiin ‘tumbal’ sama kakak tingkat buat ngisi acara sana-sini. Ya nggak apa-apa, lah. Pengenalan diri terhadap lingkungan kampus juga penting. Loh, malah ngelantur.
Di Gelex 2015 kemarin, akhirnya aku daftar PSM. Dapet stiker. Lalu kutempel di helm, tapi helmnya hilang. Yaudah. Loh??? Oke, abaikan. Setelah daftar PSM, eh datenglah temenku yang bernama Firma, ngajak daftar UFO alias Unit Fotografi. Aku mengiyakan. Alasan sebenarnya, pengen satu UKM sama si Mamas, tapi doi malah nggak jadi daftar. Kesel maksimal. Eh, malah keterusan motret, deh. Ini aku mau cerita soal UFO dulu ya.
Setelah daftar UFO, aku ikut tahap wawancara dan membawa hasil foto. Aku memilih membawa foto si Miki. Setelah nunggu pengumuman, aku lolos tahap wawancara, sedangkan yang ngajakin aku malah nggak lolos. Maaf ya, Fir. Lanjut, ikut pra-diksar, disuruh buat portfolio dengan beberapa tema, lalu diksar. Di diksar itu kita bakal dikasih pendidikan dasar (ya iyalah, namanya juga diksar alias pendidikan dasar) mengenai anatomi kamera dan teknik-teknik memotret yang baik dan benar. Lalu, kami diberi kesempatan untuk berburu foto di Tamansari. Bro, itu diksarnya di Kaliurang tapi hunting foto di Tamansari. Nggak paham. :’) Selanjutnya, ada acara evaluasi foto sekalian dikasih kartu poin. Jadi, ketentuan untuk bisa ikut pelantikan adalah... Mengumpulkan poin sebanyak minimal 1000. Dalam hati bertanya-tanya, bisa nggak ya, bisa nggak ya.. Ternyata aku... eits, ntar. Jangan ngasih spoiler, ah.
Terus, setelah dapet kartu poin, kami mengadakan beberapa kali pertemuan untuk diksar kedua, yaitu belajar tentang komposisi (kalau nggak salah), lalu hunting dan evaluasi. Kemudian yang terakhir, belajar tentang lighting. Asli, ini lumayan susah buat aku, orang yang masih awam tentang kamera. Tapi aku beruntung banget, bisa kenal sama anak-anak di sini. Baik-baik banget, selalu siap membantu aku yang awalnya nggak ngerti sama sekali soal teknik memotret sampai sekarang... ya masih nggak ngerti juga, sih. Seru banget kalau hunting foto bareng. Pokoknya udah banyak kenangan yang aku lalui bareng mereka. Main ke Taman Pelangi, ke Sindu Kusuma Edupark, ke Pantai Watu Kodok-Sanglen, nongkrong-nongkrong di kafe sekalian photoshoot, yang terakhir aku ikutan main ke Hutan Mangrove, Kulon Progo. Keuntungan punya temen-temen fotografer adalah punya banyak stok foto! Hahaha. Tapi, sayangnya aku nggak pernah ikut lagi kurasi foto jelang pameran prapelantikan, karena... Nanti ada di cerita selanjutnya. Alhamdulillah, sampai sekarang aku masih sering kontak-kontakan sama mereka, masih gabung di grup mereka, kadang juga masih suka ngobrol bareng mereka. Jujur aja, aku sedih juga sih nggak melanjutkan sampai ke pelantikan di UFO ini. Tapi yah, apa boleh buat...
Oke, lanjut ke cerita kedua yaitu cerita-cerita soal PSM UGM. Aku berhasil survive di satu UKM! WOW, fantastis! Sebuah pencapaian besar bagi Nabila Tuffahati. Emang pada dasarnya aku suka nyanyi dari kecil. Didukung sama Ibu dan Yangti yang juga suka nyanyi. Sopran tiga turunan, cuy! Lanjut. Untuk bisa lolos jadi anggota PSM UGM ini kita harus melewati beberapa tahap, yang pertama seleksi solfeggio. Silakan googling, karena aku sendiri juga bingung gimana jelasin apa itu solfeggio. Tahap kedua, seleksi vokal. Nah, setelah kita lolos seleksi vokal, kita diwajibkan untuk ikut diklat (pendidikan dan pelatihan) dari teori musik sampai praktiknya. Diklat ini kurang lebih 3 bulanan, lah. Jadi, brace yourself aja kalau ditanya kamu udah lolos PSM belum e? sama temen-temenmu. Bosen. Lalu, di akhir diklat nanti kita bakal nyanyiin satu lagu tapi udah dalam bentuk grup, untuk menentukan lolos atau enggaknya calon anggota PSM. Terus tinggal pengumuman, dan akhirnya pelantikan, deh! Terus fitting jaket merah kebanggaan, deh! Terus konser mini, deh! Terus... hop. Banyak banget kegiatan PSM. Sampai bingung nyebutinnya.
Sukanya di PSM itu... orang-orangnya pada lucu-lucu, receh alias sense of humor-nya jongkok, dan ada-ada aja :’) beberapa orang mungkin nggak langsung cocok sama lingkungan di PSM, maksudku, nggak semua orang bisa adaptasi dengan lingkungan baru, kan? Pernah dengar suara-suara kalau di PSM itu nggak enak ‘suasananya’ (itu sebelum aku daftar PSM ada yang bilang begitu). Tapi, alhamdulillah sejauh ini aku betah sama orang-orang di dalamnya, bahkan aku pernah nginep di sekretariatnya. :’) Pokoknya, sih, pinter-pinternya kita aja untuk menempatkan diri, kan? Yang penting jaga kesopanan, sama siapa pun, mau itu lebih tua atau lebih muda dari kita sekalipun. Itu prinsipku. Kalau kita bisa menghargai, pasti kita juga bakal dihargai, kok. :) Dan alhamdulillah banget, aku bersyukur bisa kenal dan akrab sama Madhang Squad! Ada Dimas, si kepala suku asal Wonogiri, yang lagi disibukkan dengan tugas akhir-nya. Bentar lagi lulus ya, Pak! Ada Wedha si gadis bersuara bass asal Manhattan, eh, Magetan. Kesayanganku, partner-ku, diary­-ku, pokoknya apa-apa kudu sama Wedha. :’) ada Isvi asal negeri yang jauh di sana, Pontianak, si kecil cabe rawit, kalau makan, porsinya paling banyak tapi nggak bisa gendut. Ada Fanani alias Fununi asal Kediri, si adik ganteng bersuara emas. Pengen macarin suaranya aja boleh nggak? :’) Ada Aldi alias Tripang asal Cilegon yang dari dulu aku sekelompok mulu sama ini orang. Sang gitaris, tapi bisa mainin banyak alat musik. Nggak paham lagi. Tapi ini orang paling ngeselin, sukanya gitu. Atos nggak jelas. Ada Mbak Ambar arek Surabaya, yang paling... ehem. Oke, beliau (((beliau))) merupakan satu-satunya mahasiswi S2 di angkatan kami. Tawanya menggelegar. Lagi nyusun tesis ya, Mbak? Semangat, ya! Lalu ada Boy alias Ayam asal Medan, kalau ketawa bikin orang lain ketawa (?) ya gitu deh, harus denger sendiri, ya, ketawanya. :( Ada Toyo, manusia asal Cilacap yang kalau kebingungan bakal keluar deh logat ngapak-nya. Ada Lina, gadis Balikpapan yang selalu ceria. Ketawaaaaa terus kerjaannya, tapi jayus ni anak. :’) Ada Aldo arek mBlitar, badannya gede tapi umurnya masih kecil. Ni anak baik pernah nganter aku pulang dari kontrakan Wedha-Isvi di Concat sana sampai rumahku Baciro. :’) Ada Jiko cah Kalitirto (eh, bener nggak?) yang suaranya UUUUHH... bikin meleleh. Emang bass sejati, nih. Dan terakhir, ada Rossy dari Blitar juga deh kalau nggak salah, dia ini... Ya Allah, baik banget-nget-nget. Sangat keibuan. Mau-maunya direpotin. Sayang deh sama Rossy. :’) Nah, berkat mereka inilah yang bikin aku betah di sini. Bener-bener kerasa kekeluargaannya. Berawal dari makan bareng seusai latihan, jadi keterusan deh, ngapa-ngapain jadi bareng. Tapi nggak mandi bareng juga........ Oh, ya, ini bukan geng lho, ya. Sebenarnya ini terbuka juga bagi siapa pun yang mau join makan. Cuma karena yang ngumpul ini-ini doang jadi ada namanya deh, gara-gara nge-tag foto di instagram, eh, salah masuk ke direct message, malah jadi ada grupnya. :’) FYI, beberapa di antara kami ada yang ikut lomba di Rimini, Italia, lho! Bangga banget sama mereka. :'))))))
Terus, dukanya di PSM? Pasti ada, lah. Terutama kalau udah jelang konser, bakalan disibukkan dengan latihan dan latihan. Mau izin karena alasan akademik juga susah banget. Jadi, ini saatnya untuk belajar time management biar kuliah dan UKM seimbang. Terus apalagi ya, dukanya... Sejauh ini, sih, belum ada duka yang ‘berarti’ buat aku, karena aku berusaha nggak baper, nggak diambil hati, dan berusaha enjoy sama semuanya yang ada di sini. Balik ke prinsipku, yang penting sopan. :) Eh, ada dukanya lagi, deng. Aku nggak bisa ikut UFO sampai pelantikan karena udah capek latihan di sini karena waktu itu jadwalnya mepet-mepet jelang konser mini. Sedih. :')

Okaaaaaay, sekian dulu ceritaku ini yang panjangnya melebihi ketentuan paper social movements-ku. Yah, jadi inget, kan, kalau belum ngerjain. Sampai bertemu di life story-ku selanjutnya. Papay!

Comments

Popular Posts